Kamis, 03 Agustus 2017

#IStandWithEllyRisman

#IStandWithEllyRisman
Saya merasa sangat sedih dengan apa yang menimpa Bu Elly.

Menurut saya, beliau tak sepenuhnya salah.
Hanya standar saja yang berbeda. Apalagi hal yang beliau komentari terkait erat dekat dengan salah satu pemicu kerusakan moral generasi. Ya soal pornoaksi dan pornografi.

Bagi orang normal dan masih menjunjung tinggi adat ketimuran, pakaian dan gaya GB itu jelas mempertontonkan pornografi dan pornoaksi.

Apalagi jika kita  cek berita, saat manggung ada personel yang memakai rok saking pendeknya sampai celdamnya kelihatan.

Kostum yang dipakai saat aksi panggung/video clip  adalah pakaian ketat atau  rok super pendek, baju  you can see, dan juga memperlihatkan pusar. *saya sudah cek beberapa di youtube

Seksi sekali bukan?

Itu untuk ukuran orang normal dan masih menjunjung budaya timur, iya. Apalagi jika menggunakan standar muslim. Lebih jelas lagi.

Kita tahu Bu Elly adalah seorang muslimah plus orang yang  separuh hidupnya didedikasikan untuk berjuang di jalur parenting.

Beliau menangani banyak korban kecanduan pornografi. Mendengar langsung curhatan korban atau ortu korban. Melihat dan mendengar langsung cerita atau foto-foto kasus pornografi.

*sudah banyak beredar contoh-contoh kasus pornografi sampai seks bebas dikalangan remaja yang dipaparkan Bu Elly dalam seminarnya. Mengerikan saat anak SMP hanya memerlukan waktu beberapa menit saja untuk melakukan penetrasi, itupun di tangga (sekolah?), karena foreplaynya sudah melalui gadget. Dll... Dll...

Beliau merasakan langsung.

Maka, sangat wajar ketika mendengar soal SNSD girlband seksi Itu akan diundang ke Indonesia beliau sangat gusar.

Soal perbedaan penafsiran 'simbol seks' bagi orang normal tentu dapat memahami apa yang dimaksud oleh Bu Elly apalagi dengan latar belakang beliau. Walau bagi masyarakat yang sudah terbiasa terpapar pemandangan demikian dianggap terlalu berlebihan.

Soal pemisalan 'pelacur' bukankah memang begitu jamaknya pakaian para pelacur? Sengaja mengumbar aurat untuk memancing kumbang datang?

Memang mereka dari luar negeri, dari negara bebas yang mungkin berpakaian seperti itu adalah biasa, mereka tak bisa disalahkan toh? Di Indonesia juga banyak artis yang manggung dengan kostum dan goyangan hot.

Tapi, hei, tunggu dulu, bukankan mereka akan diundang ke negeri ini? Secara resmi, oleh negara pula. Lepas dari dalih bahwa kedatangan mereka bukan pada moment kemerdekaan, tapi untuk Asian Games, tapi jelas, untuk apa negara mengundang girlband macam itu?

Belum cukupkah kerusakan moral remaja yang terjadi di negeri ini hingga harus ditambah dengan sajian mubadzir dan pornoaksi dari girlband yang difasilitasi negara? Apa manfaat yang bisa diambil?

Dan... Lihatlah reaksi dari para fans girlband tersebut  dan para netizen atas cuitan Bu Elly, sangat jauh dari adab sopan santun pada orang tua, seorang tokoh pula, bukan tokoh sembarangan tapi seseorang yang sangat tulus, dan besar cinta dan kepeduliannya dalam membawa misi penyelamatan anak-anak Indonesia dari kesalahan pengasuhan dan juga bahaya pornografi. Orang yang memperjuangkan mereka.

Andai mereka tahu getar suara beliau, isak yang tertahan hingga air mata yang mengalir serta seraknya suara beliau saat memaparkan parahnya kondisi  remaja kita. Andai mereka tahu perjuangan seorang nenek yang pantang menyerah berjuang demi generasi masa depan. Andai mereka tahu...😭😭😭

Tapi, lihatlah, terpampang di hadapan kita jiwa-jiwa yang sakit. Akibat dari rusaknya akhlak, rusaknya otak, rusaknya pergaulan hingga kerusakan itu menjelma nyata lewat lisan-lisan (tangan-tangan yang menulis) menghujat, mencaci maki dan menghina dengan kata-kata yang begitu kurang ajar.😭😭😭

Allah...

Kami saja, para orang tua yang hanya sibuk memikirkan anak sendiri begitu pedih membacanya, apalagi Bu Elly yang telah sekian lama menganggap anak-anak Indonesia adalah anak dan cucunya. Tak terbayangkan betapa hancur dan sedihnya beliau. Terbayang betapa masih panjangnya perjuangan, betapa semakin beratnya beban. 😭😭😭

Apalagi hingga kemudian muncul petisi menuntut beliau meminta maaf.

Allah...

Lihatlah betapa kebatilan begitu terorganisir. Lihatlah jumlah orang yang menandatangani petisi itu. Pertanda apa ini?  Pertanda jungkir baliknya logika. Pertanda akhir zaman dimana yang buruk dipandang baik dan sebaliknya. Pertanda bangsa muslim terbesar tapi jauh dari nilai-nilai islam.  πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­

Juga begitu nyatanya ghadzwul fikri, perang pemikiran. Dan sosmed adalah medan perangnya.

Lalu, apa yang dilakukan Ibunda kita tercinta?

Beliau dengan lapang dada dan berani menyatakan permintaan maaf. Untuk sebuah kata yang menurut saya sebenarnya tak sepenuhnya salah. Lihatlah pemilik jiwa satria ini. Betapa mulia dirinya. Bahkan dalam kondisi terhina, beliau memberikan sebuah keteladanan. Laksana mutiara yang kilaunya tak tertutup oleh pekatnya lumpur. Maa syaa Allah...

Padahal beliau tak merugikan siapa-siapa. Beliau hanya mengungkapkan perasaan dan pikiran yang jelas sebenarnya didukung adab kesopanan budaya timur dan syariat. Ah, sungguh beliau adalah mutiara.

Jika mau dibandingkan, betapa banyak orang (tokoh) di negeri ini yang telah jelas melakukan kedzaliman, jangankan meminta maaf, merasa salah pun tidak.

Maka, betapa semakin engkau berkilau, Ibunda...

Lalu, apa kabar para pembullynya? Apakah mereka berhenti? Ternyata tidak.  Bahkan ada portal berita yang seringkali menyebar hoax masih membully beliau dengan menyatakan permintaan maaf beliau tidak tulus.

Inilah cermin generasi yang sakit.

Generasi yang sakit dan tinggal di negara yang sakit dengan pemerintahan yang juga sedang sakit.

Saya justru curiga, melihat sepak terjang rezim pemerintah yang mendukung bahkan memfasilitasi  segala upaya pengrusakan bangsa, mulai dari penistaan agama, pelanggaran hukum, premanisme, pembubaran ormas, kriminalisasi ulama sampai pencemaran nama baik tokoh dan instansi. Tapi pada saat yang sama melindungi penjahat, membela LGBT, membiarkan organisasi terlarang unjuk gigi dalam simbol, bangga mengundang remaja plagiat daripada yang berprestasi nyata,  dll.

Justru bisa jadi kasus ini digunakan pihak tertentu menjadi salah satu jalan untuk menggebuk para pejuang dalam ranah parenting. Setelah sebelumnya menggebuk pejuang dalam ranah agama dan hukum serta IT. Bukankah banyak akun tak jelas yang membully beliau? Yakinkah semuanya adalah remaja?  Atau sebagian besarnya adalah buzzer bayaran?

Saya bahkan merasa sesak saat tahu bahwa banyak juga akun ibu-ibu yang membully beliau.

Allah... Speechless😭😭😭

Balik lagi ke asal polemik.

Bukankah mengundang girlband adalah salah satu contoh betapa negara merasa  tak peduli pada generasi muda? Bukankah lebih baik menampilkan budaya sendiri yang begitu kaya agar generasi muda bisa mengenalnya dan mewarisinya?

Atau...
Apakah memang negara sedang membentuk generasi hedonis?

Sungguh banyak keanehan memang.
Istana begitu peduli sampai mengundang remaja plagiat tapi mengabaikan remaja berprestasi nyata.

Pun kita saksikan Menteri agama kita justru menghadiri award LGBT dan mensuportnya lewat pernyataannya.

Dan Bu Elly, adalah salah satu pakar yang concern berjuang memerangi pornografi dan LGBT. Apakah sikon ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu? Entahlah, wallahu'alam.

Tapi yang jelas, generasi muda Indonesia sedang benar-benar dalam keadaan kritis. Dikepung pornografi/pornoaksi, narkoba, trend liar dan seks bebas, juga disuguhi tontonan, tokoh yang dipoles dan idola-idola yang jauh dari layak untuk dicontoh.

Dan yang pasti, Indonesia membutuhkan beliau, Bu Elly Risman, untuk tetap tegak berjuang demi menyelamatkan generasi muda dan juga orang tua yang tersesat.

Bu Elly, kami mencintaimu, kami membutuhkanmu.

Terima kasih untuk segala perjuangan Ibu selama ini. Semoga Allah senantiasa melindungi dan memberkahi Ibu dan keluarga serta orang-orang yang berjuang bersama Ibu.

Teruslah berjuang Bu, kami akan terus mendukungmu.

Salam sepenuh cinta,
Cahya Naurizza
-Seorang Ibu yang menyuarakan nurani.-

#KamiBersamaBuEllyRisman
#catatancahya

Nb: sebelum manambahkan foto GB ini, saya sudah berpikir berulang-ulang.
Namun, karena point mereka menuntut Bu Elly meminta maaf adalah karena dikatakan simbol seks dan P,  makanya saya sengaja mencantumkannya. Sebagai bahan untuk melihat. "Begini loh penampilan mereka... Coba dinilai, gimana kira-kira?"
Karena inti dari tulisan ini adalah bahwa pernyataan Bu Elly tidak sepenuhnya salah. Wallahu'alam.
--------------
Sebait puisi untuk Beliau.

https://m.facebook.com/photo.php?fbid=10203405181408027&id=1766846944&set=a.3031106554462.1073741825.1766846944&notif_t=feed_comment&notif_id=1501645258268246&ref=m_notif

Selasa, 01 Agustus 2017

Hebat, Anak Perumnas ikut Terjun Payung di Tanjungbalai

Syatriawan Musdalifah S.ap masuk sebagai salah seorang dalam tim penerjun yang akan beraksi dalam penutupan TMMD di Lapangan Sultan Abdul Djalil Rahmadsyah 2 Agustus 2017. Pria kelahiran Medan 08 Oktober 1981 ini bertugas di Kesatuan Detasemen A Pelopor Satuan Brimob Polda Metro Jaya.


Ayah dari seorang putri ini biasa dipanggil Syatria dalam pergaulan kesehariannya. Pernah sekolah di SDN 137958 Kota Tanjungbalai lanjut SMP 1  dan SMA 1 Kota Tanjungbalai. Bekal ilmu yang dirasa masih kurang cukup hingga dia memilih untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara (STIA LAN - Jakarta)

Masuk dalam kepolisian Seba XV Gel. II tahun 2005 (Pusdik Brimob) dan ikut Dikjur Free Fall 2012. Jabatan sekarang Kanit Provos Den.A PELOPOR SATUAN BRIMOB POLDA METROJAYA

Syatria yang aktif di organisasi penembak dan organisasi penerjun sudah sejak lama berkeinginan untuk terjun payung di kampung halaman yaitu Tanjungbalai Asahan. Keinginan tersebut bermaksud dapat menjadi motivasi buat generasi muda di Tanjungbalai Asahan.

Pria yang dikenal ramah ini menikah dengan wanita yang akrab disapa Ama, juga berasal dari Kota Tanjungbalai. Keikutsertaan dan keaktifan beliau di dalam organisasi GOTAS (Gerakan Orang Tanjungbalai Asahan Sekitarnya) membuat beliau didaulat sebagai Ketua Bidang Pemuda dan Olahraga. Peran serta berbaur di masyarakat di luar tugas pantas diacungkan jempol. Saat ini beliau tinggal di Komplek Asrama BRIMOB Kwitang Jakarta Pusat dan dipercaya warga setempat sebagai Ketua RT 05 Kel. Senen Kec. Senen Kota Jakarta Pusat.

Pengalamannya terjun sudah tidak perlu diragukan lagi. Meskipun demikian beliau berkata bahwa seorang penerjun payung tidak boleh sombong atau anggap remeh, karena sikap rendah hati dan tawakkal kepada ilahi berpengaruh besar terhadap keberhasilan terjun. Dua dari banyak pengalaman beliau terjun payung dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-69 di silang MONAS dihadiri Presiden Republik Indonesia Soesilo Bambang Yudhoyono. Belum lama ini Syatria terjun payung dalam rangka HUT Bhayangkara ke-71 yang disaksikan dan dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Syatria adalah anak dari pasangan Bapak Syahril Tambusai Bsc (Alm) dan Ibu Hj. Wilyar Sirait (Almh). Bisa terjun payung di kampung halaman adalah sebuah bentuk kebahagiaan tersendiri baginya untuk dipersembahkan kepada seluruh masyarakat Tanjungbalai Asahan. Semoga Syatria dan tim sukses terjun payung di Kota Tanjungbalai.

#GOTAS

Hanya ada di Indonesia..

14th diperkosa 14org. 19th diperkosa 19org.. Selamat datang di INDONESIA dimana teman bisa jadi pacar, pacar bisa jadi mantan, mantan bisa jadi pacar.. Selamat datang di INDONESIA dimana anak SD manggilnya ayah bunda. Anak Smp diperkosa sampe mati,anak SMA ngaku anak pejabat polri, anak kuliahan bunuh dosennya gara" skripsi ditolak. Sonya D. Anak yang memaki" polwan yang menghentikan kendaraannya kini menjadi DUTA NARKOBA..?? Zaskia G. Pekerjaan penyanyi dangdut terkenal dgn goyang itik.. sangat tidak mendidik menghina simbol negara dan kini menjadi DUTA PANCASILA.. ???? Nurmayani S guru yang mencubit anak muridnya karna nakal kini DIPENJARA.. SELAMAT DATANG DI INDONESIAA... hanya ada di INDONESIA.... DI JEPANG korupsi di akhiri sampe mati, di KOREA UTARA orang salah di hukum mati.. Di CHINA koruptor di hukum mati.. Di INDONESIAA ORANG SALAH DI BELA SAMPEE MATIII.... NENEK ASYANI mencuri 2 batang pohon vonis 1 thn penjara.... PT BUMI MEKAR HIJAU membakar 20.000 hektar hutan VONIS TIDAK  BERSALAH.. Maling sendal seharga 5 rb VONIS 5 tahun pnjara.. KORUPSI 21.2M VONIS 4,5 TAHUN PENJARA.. SELAMATTTT DATANGGG DI INDONESIAA DIMANA HUKUM DI NEGARA KITAA SANGATLAHHH LUAR BIASAA dimana hukum TUMPUL KE ATAS NAMUN SANGATT TAJAM KE BAWAHH... Haloooo INDONESIAA yg mental anak sekolahnya pada cengeng... DIJEWER DIKIT LAPOR. DIRAZIA RAMBUTNYA LAPORR lalu Guru di penjara, lalu Guru di cukur balik siapa yang pantas untuk disalahkannn...? Siapakah kini pelipurlara nan setia..?. TELAH HILANG MORAL DINEGARA INI... TELAH GAGAL PAHLAWANKU UNTUK MEMBENTUK NEGARA INI..SIAPAKAH KINI PAHLAWAN HATI, PEMBELA BANGSA SEJATI...?. LIHATLAH NEGARA LAINN TERTAWA TERBAHAK" MELIHAT HUKUM YANG PALINGG KONYOL YANG HANYA ADA DI INDONESIAAA... MUNGKIN KALIAN PARA PENEGAK HUKUM KURANG PIKNIK...!!

salam anak muda.
#free coment bantu share ya para sahabatku sosmed.

PAULO FREIRE: pendidikan gaya bank

Tiba-tiba ingat Paulo Freire. Tokoh pendidikan dari kawasan Amerika Latin yang kesohor lewat idiom ”pendidikan gaya bank” ini menilai bahwa peserta didik yang sedang belajar masih sering dianggap sebagai manusia yang tidak tahu apa-apa. Otak murid dianggap sebagai safe deposit box. Pengetahuan dari guru ditransfer ke dalam otak siswa, dan jika sewaktu-waktu diperlukan, pengetahuan tersebut tinggal diambil. Hubungan guru-murid hanyalah subjek-objek, bukan subjek-subjek.
Pendidikan di Indonesia agaknya juga masih menganut "pendidikan gaya bank" semacam itu. Pendidikan kita belum sepenuhnya mampu membebaskan manusia dari ketertindasan, keterbelakangan, dan kebodohan. Imbasnya, keluaran pendidikan kita berusaha menemukan makna kebebasan itu dengan cara mereka sendiri sesuai dengan naluri agresivitasnya.

Mereka yang memiliki naluri untuk kaya, tak jarang menempuh cara-cara korup dan menerapkan ilmu permalingan, mereka yang punya naluri untuk disegani dan dihormati tak segan-segan membeli ijazah, jabatan, atau pangkat dengan cara yang tidak wajar, mereka yang punya naluri hidup mewah dan kebelet memuaskan naluri hedonisnya tak segan-segan menipu orang miskin, mengeruk uang negara, dan merasa bangga jika lolos dari jeratan hukum.

Pantesan, mereka yang doyan ngemplang duit negara, bikin kegaduhan, dan menjadi pemuja gaya politik ala Machiavelli rata-rata berpendidikan tinggi.

Meski ilmu permalingan yang digunakan oleh para "bromocorah" berpendidikan tinggi tersebut tidak mereka dapatkan di bangku pendidikan, tetapi soal ini masih tetap menjadi PR yang belum diselesaikan oleh para penentu kebijakan dalam merumuskan konsep pendidikan yang benar-benar mampu menjadi ruang pembebas manusia dari ketertindasan, keterbelakangan, dan kebodohan.