Jumat, 28 Juli 2017

PERLUKAH DIWASPADAI DARI PERTEMUAN PRABOWO - SBY

Pertemuan Prabowo Subianto dan Susilo Bambang Yudhoyono kemarin (27/7) adalah peristiwa politik yang harus diwaspadai.  Walau tidak diyatakan secara eksplisit, bisa diduga ini adalah bentuk dukungan SBY terhadap pencalonan Prabowo sebagai calon Presiden 2019. Ini sebenarnya agak mengejutkan karena kedua tokoh ini sebenarnya memiliki latar belakang sejarah hubungan yang tidak harmonis. Sekadar catatan, SBY adalah salah satu perwira dalam Dewan Kehormatan Perwira ABRI yang pada 1998 merekomendasikan pemberhentian Prabowo dari karier kemiliterannya. Bahwa mereka kini bisa bersatu, nampaknya karena mereka tahu hanya dengan bekerjasama mereka bisa berkompetisi melawan Jokowi.

Bro dan sis, bagi kita persekutuan ini Prabowo jelas mewakili kembalinya kekuatan otoriter era Orde Baru. Walau dia sudah bercerai dengan Titik Soeharto, segenap tanda-tanda politik yang ada menunjukkan Prabowo kini berjalan bersama keluarga Soeharto. Di sisi lain, SBY – yang juga militer – kembali ke panggung politik dengan semangat politik dinasti, sebagaimana dengan jelas ditunjukkan dengan majunya Agus Yudhoyono dalam Pilgub DKI.

Persekutuan ini pada dasarnya berseberangan dengan sosok ideal Indonesia yang dibayangkan. Politik yang diinginkan adalah politik yang demokratis, dengan penghargaan tinggi terhadap Hak Asasi Manusia, di mana kedaulatan ada ditangan sipil. memperjuangkan politik yang didasarkan pada integritas, kompetensi, dan profesionalisme. Bukan yang mengedepankan sanak keluarga untuk ditempatkan dalam posisi penting di dalam partai.

Kita ingin politik Indonesia bergerak ke depan. Meninggalkan cara-cara lama Politik yang baru dan modern. Politik yang mengedepankan kedaulatan rakyat. Bukan elit, bukan keluarga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar