Selasa, 01 Agustus 2017

PAULO FREIRE: pendidikan gaya bank

Tiba-tiba ingat Paulo Freire. Tokoh pendidikan dari kawasan Amerika Latin yang kesohor lewat idiom ”pendidikan gaya bank” ini menilai bahwa peserta didik yang sedang belajar masih sering dianggap sebagai manusia yang tidak tahu apa-apa. Otak murid dianggap sebagai safe deposit box. Pengetahuan dari guru ditransfer ke dalam otak siswa, dan jika sewaktu-waktu diperlukan, pengetahuan tersebut tinggal diambil. Hubungan guru-murid hanyalah subjek-objek, bukan subjek-subjek.
Pendidikan di Indonesia agaknya juga masih menganut "pendidikan gaya bank" semacam itu. Pendidikan kita belum sepenuhnya mampu membebaskan manusia dari ketertindasan, keterbelakangan, dan kebodohan. Imbasnya, keluaran pendidikan kita berusaha menemukan makna kebebasan itu dengan cara mereka sendiri sesuai dengan naluri agresivitasnya.

Mereka yang memiliki naluri untuk kaya, tak jarang menempuh cara-cara korup dan menerapkan ilmu permalingan, mereka yang punya naluri untuk disegani dan dihormati tak segan-segan membeli ijazah, jabatan, atau pangkat dengan cara yang tidak wajar, mereka yang punya naluri hidup mewah dan kebelet memuaskan naluri hedonisnya tak segan-segan menipu orang miskin, mengeruk uang negara, dan merasa bangga jika lolos dari jeratan hukum.

Pantesan, mereka yang doyan ngemplang duit negara, bikin kegaduhan, dan menjadi pemuja gaya politik ala Machiavelli rata-rata berpendidikan tinggi.

Meski ilmu permalingan yang digunakan oleh para "bromocorah" berpendidikan tinggi tersebut tidak mereka dapatkan di bangku pendidikan, tetapi soal ini masih tetap menjadi PR yang belum diselesaikan oleh para penentu kebijakan dalam merumuskan konsep pendidikan yang benar-benar mampu menjadi ruang pembebas manusia dari ketertindasan, keterbelakangan, dan kebodohan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar